Sabtu, 16 Oktober 2010

Surat Untuk Tuan Merah.


" Untuk anda tuan, yang pernah berjanji untuk tetap melawan kemunafikan dan ketidak-adilan, diantara keterbatasan harta, tahta, dan sumber daya " . 

Kemarin situasi terburuk anda jalani dengan tenang dan candaan, sangat jarang anda ber-andai-andai untuk diri sendiri. Anda merupakan guru, bagi banyak manusia dengan kemampuan kritis namun bersahaja. Di saat bersamaan anda, mendapat satu tempat terbaik di kalangan anda. Anda bukan seorang super-hero, namun berani melawan angkatan bersenjata, yang digunakan diktator sebagai instrumen pembungkam. Tidak juga memiliki peralatan dan persenjataan canggih, namun anda menjadi inspirator bagi banyak kepala. Walaupun bukan ilmuan dan imam, gagasan dan perbuatan anda, menjadi senjata paling ampuh melawan penindasan. Lebih ampuh dari senjata pemusnah massal sekalipun. Tuan tidak turun ke-medan perang, namun memerdekakan banyak kepala di tanah ini. 

Saya tahu karena saya pernah mendapatkan kehormatan, untuk berdiri bersama tuan di beberapa langkah, bahkan di bina dengan baik oleh tuan. Saya tahu, tidak ada baju anti peluru menempel di badan tuan, saat berhadapan dengan moncong senjata. Hanya sepotong jaket kain berwarna hitam, pelindung kulit dari terik mentari. Kemarin anda masih menyerap arti hidup secara penuh, dengan metoda trial and error, anda menyusunnya secara sistematis dan menjadikan pengalaman sebagai ilmu. Menjadi petunjuk bagi generasi setelah tuan, dan saya yakin dikemudian hari akan menjadi sumbangan besar bagi sejarah. Bahkan kemarin saya masih melihat tuan, berjalan bersama proletar dan para korban. 

Dari sekian banyak hal baik yang saya dapat selama di bina oleh tuan, saya masih ingat satu hal. Yaitu, “Tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri”. Dan sepertinya hal tersebut, kini terjadi pada tuan. Kini anda mengenakan jaket parpol, ilmu yang anda terima kini merupakan hasil analisa olahan pakar “bayaran” tersusun dan disampaikan secara instan oleh pemateri di Hotel berbintang. Kini anda duduk sedatar dengan para petinggi, suara lantang anda juga tiada memekik lagi seperti dulu. Tidak juga anda sampaikan protes kepada mereka, anda hanya mendengar dan ter tawa mengisi Quota canda. Tuan apakah anda sadar, sekarang anda meninggalkan ketenangan dari mimpi awal anda ? , meninggalkan doa para korban, dan kawan se-gagasan. Atau anda sadar namun tetap saja melakukan itu, agar tuan dapat memakai siasat Johan Pahlawan ?. Entahlah tuan, saya tidak berani berandai-andai, mengenai sikap tuan yang kini teman para pejabat.

Walau begitu jejak dan langkah yang pernah kita lalui bersama, akan tetap saya anggap sebagai pengalaman paling berharga bagi saya. Kenangan paling meyakinkan, dari sedikit keyakinan saya terhadap diri sendiri. Bahkan sangat mungkin, menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Tidak peduli betapa berat, pahit, dan menyakitkan hal tersebut. Akhir kata, hormat, dan peluk hangat saya untuk anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar