Sabtu, 16 Oktober 2010

Masih Sama

Tadi aku mencium harum aroma yang sama, seperti wangimu. Tidak pelak aku-pun langsung terbawa ke lorong waktu, menyusuri keadaan dan kondisi brutal. Bait terbaik yang pernah, kurasakan di dalam kehidupan ini. Seperti biasa, aku hanya akan terdiam di tempatku, butuh waktu setengah jam sampai akhirnya aku sadar, bahwa dia bukan kau. Kondisi seperti itu sangat rumit, dan kompleks bagiku, rasanya lebih mudah melakukan aksi demonstrasi ke-KODAM, atau turun ke-jalan melakukan aksi anarkis selama seminggu.

Dari pada harus kembali, menyusuri lorong waktu seperti tadi. Tidak peduli sekuat apapun aku berusaha melawan, hasilnya akan tetap sama saja. Entah apa lagi yang dapat kulakukan, sampai malam berganti pagi, aku masih terjaga. Teringat kejadian tadi, sungguh selama setengah jam itu, aku merasa kau hadir kembali disisiku. Melingkarkan tanganmu di pinggangku, dan dengan lembut berkata “ Aku takut jika nanti, aku atau kau pergi, dan kita harus berpisah “. Entah mengapa, ketakutanmu sepertinya terjawab. Dan berbeda seperti malam itu, sekarang akulah yang merasa ketakutan ter-amat sangat.

Tidak biasanya aku ketakutan seperti tadi, lebih menakutkan dari-pada mengingat kembali wajah-wajah lugu yang harus menengadahkan tangannya di pinggir jalan kota, hanya untuk sesuap nasi. Atau ketakutanku mengingat bagaimana Negara ini, di pimpin oleh sekumpulan manusia yang mahir dalam korupsi, serta tega men-jadi agen, menjual tanah darahnya sendiri. Bahkan ketakutan tadi, lebih menakutkan dari pada ketakutan generasi muda negeri ini, atas hak pendidikan mereka yang dikebiri. Padahal sudah seharusnya, dijamin oleh Negara untuk mereka.

Sudah ratusan kali aku mencoba untuk menutup mataku malam ini, tapi tetap saja indra penciumanku sepertinya masih mencium aroma harum tadi. Aku belum cukup gila untuk ini, walau sudah dapat dikategorikan wajar berbicara dengan batu. Bagaimana tidak, sebagai warga Negara tanah ini, aku dan warga negara lainnya, sudah sepantasnya berbicara dengan batu. Karena perangkat dan aparatur Negara ini, sudah mem-batu hatinya. Bahkan sebahagian, telah membatu cukup lama. Mungkin saja sekarang, mereka sudah dapat di-nama-kan sebagai arca.

Apa yang sebenarnya terjadi ?, mungkinkah kau coba meng-isyarat-kan kerinduanmu kepada-ku ?, atau sebaliknya aku-lah yang terlalu lama memendam keindahanmu dihatiku ?. Entahlah, mungkin juga semua ini, hanya perasaanku yang tidak ber-atur-an. Terjadi karena ego-ku, yang terlalu tinggi untuk tetap berpikir rasional. Tanpa, mengindahkan konsep-konsep mistis sedikitpun. Walau begitu, jika aku boleh jujur, aku masih dan akan selalu rindu kepadamu. Aku berjanji, kelak aku akan menemui-mu di alam sana, walaupun hanya sesaat. Hanya sekedar terpesona dengan senyum dan tingkah-mu, saat bermain dengan riang di sorga tuhan bertemankan para bidadari.

Untuk sementara biarlah aku menemani mereka yang dimarginalkan oleh situasi dan kondisi, mereka yang masih cukup waras untuk melawan ketika ditindas. Sama seperti dulu, kau masih dapat memegang janji-ku, cepat atau lambat aku pasti akan menemui-mu, minimal melihat-mu disana. Walau-pun aku ragu apakah kau akan menyambutku seperti dulu, saat kau masih disini menemaniku melawan sepi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar