Alkisah di sebuah masa di gurun pasir, pernah terjadi sepenggal kisah aneh. Balada ringan, warisan generasi era akhir zaman mahkluk Tuhan. Ditengah gersang, tandus, dan panasnya gurun pasir itu, ternyata masih ada se-cecer oase ditepi empat gundukan bukit pasir. Dari arah selatan, terlihat sesosok manusia datang ke-oase tersebut. Disaat yang bersamaan, terlihat se-ekor singa, yang juga sedang mendekati oase tersebut, dari arah utara. Entah dari mana datang, dan awal mula perjalanan ke-dua mahkluk Tuhan tersebut.
Setelah lama saling mengintai, dan memperhatikan dari kejauhan. Akhirnya ke-duanya beradu tatap selama beberapa saat di pinggir, se-cecer oase tadi. Dan duduk saling berhadap-hadapan, di bawah sebatang pohon kurma kecil. Sampai akhirnya, si manusia berkata:
Manusia : “ Wahai sesama hamba Tuhan, mari kita berbagi air ini “, dengan wajah memelas.
Singa : “ Apakah pantas aku berbagi dengan manusia sepertimu ?, sedangkan banyak dari kaum-ku yang dikuliti, dan diburu oleh bangsa-mu, hanya demi kesenangan dan hiburan semata “, jawab sang singa.
Manusia : “ Kau Raja rimba, sudah sepatutnya berlaku adil kepada siapa saja “, seru si manusia.
Manusia : “ Aku tidak takut jika harus bermusuhan dengan-mu, karena kaummu-pun juga sering memangsa bangsa-ku. Jadi kita sebenarnya sama, oleh karena itu mari kita berbagi air ini “, sambung manusia.
Singa : “ Aku memang Raja rimba, tapi itu dulu sebelum bangsamu menebang hijau-nya. Dengan dalil pembangunan dan kesejahteraan, membumi hanguskan segala isi rimba. Dan yang perlu kau tahu, wahai cucu adam. Kaum-ku memangsa bangsamu, murni untuk melindungi diri, dan teritori yang sudah kami tempati dari masa nenek moyang kami. Jadi, tolong jangan kau samakan antara kaum-ku dan bangsa-mu itu “, hardik sang singa.
Singa : “ Kau melakukan kesalahan besar, jika menyamakan aku dengan bangsa-mu yang anti-thesis didalam bersikap, dengan apa yang telah kalian ucapkan. Apalagi aku dan kaum-ku bukan singa sirkus yang a-historis, apalagi Amnesia seperti bangsa-mu “, sambung sang singa.
Manusia : “ Benarkah itu, wahai singa ? “, kata manusia dengan nada bertanya.
Manusia : “ Jika begitu, ceritakan-lah kepadaku, kisah sebelum nama-ku terlahir. Dimana kau dan kaum-mu, masih memiliki kebesaran dan keagungan seperti dongeng yang pernah ku-dengar “, kata manusia.
Sang Singa bercerita panjang lebar, dengan semangat menggebu-gebu dan heroisme tingkat tinggi. Sampai akhirnya dia sadar, bahwa sebenarnya manusia sedang mengelabui-nya. Dan telah meminum, setengah ceceran air di-oase tersebut. Melihat hal tersebut, Singa tertawa lepas, dan berkata :
Singa : “ Dasar manusia kau picik sangat, hal ini akan menjadi ingatan tambahan bagi-ku, betapa manusia amat-sangat tidak dapat dipercaya, dank au benar-benar dar bangsa-mu “, kata sang Singa.
Singa : “ Tapi sudahlah, apakah kau masih menyisakan air untuk-ku ? “, tanya sang Singa.
Manusia : “ aku bukan manusia yang tega melakukan itu, walaupun dalam keadaan terpaksa bangsa-ku kerap meng-halalkan segala cara. Lihatlah masih kusisakan setengah cecer air di oase itu, untukmu wahai Raja tanpa mahkota “, sahut manusia seraya menunjuk kearah oase.
Kembali tawa lepas dan menggema keluar dari mulut sang Singa, keadaan kemudian semakin men-cair diantara kedua-nya. Seakan mereka telah lama bersahabat. Sang Singa meminta kepada Manusia menceritakan arah, tujuan, dan maksud dari perjalanannya. Manusia menceritakan bahwa arah, perjalanannya menuju kota Damai, yang berjarak berjuta batu dari tempat asalnya, dengan tujuan mencari petunjuk dari Bintang Utara. Dan bermaksud untuk melakukan perubahan fundamental, ditengah bobroknya moral bangsa-nya.
Mendengar cerita Manusia, sang Singa merasa terharu dan menawarkan sisa cecer-an air dioase kepada Manusia. Bukan hanya itu, dia juga menawarkan dirinya sebagai bekal kepada Manusia.
Singa : “ Biarkan tetesan darahku mengisi kantung airmu, dan bawalah hati, dan dagingku sebagai bekal makanan-mu. Kenakan kulitku, sebagai lambang ke-jayaan dan ke-megahan-mu. Sesungguhnya kau memang layak menerima-nya “, kata sang Singa menawarkan.
Singa : “ Dengan syarat, jika ada yang bertanya apakah aku Mahkluk pe-murka dan pembangkang. Maka jawablah IYA, dia adalah mahkluk yang pemurka kepada Tirani, dan dia juga pembangkang bagi para diktator. Juga jawablah IYA jika ada yang bertanya, apakah dia memiliki harapan dan cita-cita di mimpi-nya. Maka katakanlah bahwa aku berharap, akan ada sebuah era dimana setiap tingkatan kasta dan tindakan apartheid, hanyalah dongeng yang di gunakan untuk menakut-nakuti kenakalan anak-anak. Bukan sebuah realita yang harus diterima dan terjadi dibumi ini. Serta, jangan lupa sampaikan cita-cita impianku. Dimana wajar terlihat semua makhluk dapat hidup berdampingan dan saling tolong-menolong, dan ingat-mengingatkan menuju jalan yang benar. Kondisi dimana bahasa kita hanya satu, bahasa kebenaran.”, titah sang Singa.
Singa : “ Bagaimana manusia ?, apakah kau sanggup menyampaikan amanahku ?, sungguh begitulah seharusnya “.
Setelah menyanggupi amanah sang Singa, dan melakukan “pembantaian” yang mengantar Singa sebagai martir. Manusia-pun melanjutkan perjalanannya, menuju kota Damai. Berbalut kulit, berbekal amanah dan secawan darah Singa, serta mengantongi hati dan daging Singa sebagai bekal. Di perjalanannya, manusia menyampaikan amanah Singa kepada mereka-mereka yang bertanya. Tapi menambahkan sedikit pujian yang berbunyi:
“ Sungguh betapa sangat manusiawi sang Singa “
Di dedikasikan untuk
semua kawan-kawan yang telah memilih
Arief Fadly sebagai Presma USK 2010-2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar