Sabtu, 16 Oktober 2010

Anarkisme

Anarkisme atau dieja anarkhisme yaitu suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuhsuburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan/dihancurkan.
Secara spesifik pada sektor ekonomi, politik, dan administratif, Anarki berarti koordinasi dan pengelolaan, tanpa aturan birokrasi yang didefinisikan secara luas sebagai pihak yang superior dalam wilayah ekonomi, politik dan administratif (baik pada ranah publik maupun privat).

Etimologi

Anarkisme berasal dari kata dasar "anarki" dengan imbuhan -isme. Kata anarki merupakan kata serapan dari anarchy (bahasa Inggris) atau anarchie (Belanda/Jerman/Prancis), yang berakar dari kata bahasa Yunani, anarchos/anarchein. Ini merupakan kata bentukan a- (tidak/tanpa/nihil/negasi) yang disisipi /n/ dengan archos/archein (pemerintah/kekuasaan atau pihak yang menerapkan kontrol dan otoritas - secara koersif, represif, termasuk perbudakan dan tirani); maka, anarchos/anarchein berarti "tanpa pemerintahan" atau "pengelolaan dan koordinasi tanpa hubungan memerintah dan diperintah, menguasai dan dikuasai, mengepalai dan dikepalai, mengendalikan dan dikendalikan, dan lain sebagainya". Bentuk kata "anarkis" berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki, sedangkan akhiran -isme sendiri berarti paham/ajaran/ideologi.
"Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia" (Peter Kropotkin)
"Penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas" (Errico Malatesta)

Teori politik

Anarkisme adalah teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Atau, dalam tulisan Bakunin yang terkenal:
"kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan"[1]

Anarkisme dan kekerasan

Dalam sejarahnya, para anarkis dalam berbagai gerakannya kerap kali menggunakan kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya, seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani. Slogan para anarkis Spanyol pengikutnya Durruti yang berbunyi:
Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan
Yang sangat sarat akan penggunaan kekerasan dalam sebuah metode gerakan. Penggunaan kekerasan dalam anarkisme sangat berkaitan erat dengan metode propaganda by the deed, yaitu metode gerakan dengan menggunakan aksi langsung (perbuatan yang nyata) sebagai jalan yang ditempuh, yang berarti juga melegalkan pengrusakan, kekerasan, maupun penyerangan. Selama hal tersebut ditujukan untuk menyerang kapitalisme ataupun negara.
Namun demikian, tidak sedikit juga dari para anarkis yang tidak sepakat untuk menjadikan kekerasan sebagai suatu jalan yang harus ditempuh. Dalam bukunya What is Communist Anarchist, pemikir anarkis Alexander Berkman menulis:
"Anarkisme bukan Bom, ketidakteraturan atau kekacauan. Bukan perampokan dan pembunuhan. Bukan pula sebuah perang di antara yang sedikit melawan semua. Bukan berarti kembali kekehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia. Anarkisme adalah kebalikan dari itu semua. Anarkisme berarti bahwa anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok anda, ataupun memaksa anda. Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa yang anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang anda mau serta hidup di dalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan." (Alexander Berkman, What is Communist Anarchist 1870 - 1936)
Dari berbagai selisih paham antar anarkis dalam mendefinisikan suatu ide kekerasan sebagai sebuah metode, kekerasan tetaplah bukan merupakan suatu ide eksklusif milik anarkisme, sehingga anarkisme tidak bisa dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna tentang anarkisme yang banyak dikutip oleh berbagai media di Indonesia yang berarti sebagai sebuah aksi kekerasan. Karena bagaimanapun kekerasan merupakan suatu pola tingkah laku alamiah manusia yang bisa dilakukan oleh siapa saja dari kalangan apapun.

Sejarah dan dinamika filsafat anarkisme

 Anarkisme sebagai sebuah ide yang dalam perkembangannya juga menjadi sebuah filsafat yang juga memiliki perkembangan serta dinamika yang cukup menarik.

Anarkisme dan Marxisme

Marxisme dalam perkembangannya setelah Marx dan Engels berkembang menjadi 3 kekuatan besar ideologi dunia yang menyandarkan dirinya pada pemikiran-pemikiran Marx. Ketiga ideologi itu adalah : (1) Komunisme, yang kemudian dikembangkan oleh Lenin menjadi ideologi Marxisme-Leninisme yang saat ini menjadi pegangan mayoritas kaum komunis sedunia; (2) Sosialisme Demokrat, yang pertama kali dikembangkan oleh Eduard Bernstein dan berkembang di Jerman dan kemudian berkembang menjadi sosialis yang berciri khas Eropa; (3) Neomarxisme dan Gerakan Kiri Baru, yang berkembang sekitar tahun 1965-1975 di universitas-universitas di Eropa.
Walaupun demikian, ajaran Marx tidak hanya berkutat pada ketiga aliran besar itu karena banyak sekali sempalan-sempalan yang memakai ajaran Marx sebagai basis ideologi dan perjuangan mereka. Aliran lain yang berkembang serta juga memakai Marx sebagai tolak pikirnya adalah Anarkisme.
Walaupun demikian anarkisme dan Marxisme berada dipersimpangan jalan dalam memandang masalah-masalah tertentu. Pertentangan mereka yang paling kelihatan adalah persepsi terhadap negara. Anarkisme percaya bahwa negara mempunyai sisi buruk dalam hal sebagai pemegang monopoli kekuasaan yang bersifat memaksa. Negara hanya dikuasai oleh kelompok-kelompok elit secara politik dan ekonomi, dan kekuatan elit itu bisa siapa saja dan apa saja termasuk kelas proletar seperti yang diimpikan kaum Marxis. Dan oleh karena itu kekuasaan negara (dengan alasan apapun) harus dihapuskan. Di sisi lain, Marxisme memandang negara sebagai suatu organ represif yang merupakan perwujudan kediktatoran salah satu kelas terhadap kelas yang lain. Negara dibutuhkan dalam konteks persiapan revolusi kaum proletar, sehingga negara harus eksis agar masyarakat tanpa kelas dapat diwujudkan. Lagipula, cita-cita kaum Marxis adalah suatu bentuk negara sosialis yang bebas pengkotakan berdasarkan kelas.Selain itu juga, perbedaan kentara antara anarkisme dengan Marxisme dapat dilihat atas penyikapan keduanya dalam seputar isu kelas serta seputar metoda materialisme historis

Pierre-Joseph Proudhon

Pierre Joseph Proudhon
Lihat pula: Pierre-Joseph Proudhon
Pierre-Joseph Proudhon, adalah pemikir yang mempunyai pengaruh jauh lebih besar terhadap perkembangan anarkisme; seorang penulis yang betul-betul berbakat dan ‘serba tahu’ dan merupakan tokoh yang dapat dibanggakan oleh sosialisme modern. Proudhon sangat menekuni kehidupan intelektual dan sosial di zamanya, dan kritik-kritik sosialnya didasari oleh pengalaman hidupnya itu. Di antara pemikir-pemikir sosialis di zamannya, dialah yang paling mampu mengerti sebab-sebab penyakit sosial dan juga merupakan seseorang yang mempunyai visi yang sangat luas. Dia mempunyai keyakinan bahwa sebuah evolusi dalam kehidupan intelektual dan sosial menuju ke tingkat yang lebih tinggi harus tidak dibatasi dengan rumus-rumus abstrak.
Proudhon melawan pengaruh tradisi Jacobin yang mendominasi pemikiran demokrat-demokrat di Perancis dan kebanyakan sosialis pada saat itu, dan juga pengaruh negara dan kebijaksanaan ekonomi dalam proses alami kemajuan sosial. Baginya, pemberantasan kedua-dua perkembangan yang bersifat seperti kanker tersebut merupakan tugas utama dalam abad kesembilan belas. Proudhon bukanlah seorang komunis. Dia mengecam hak milik sebagai hak untuk mengeksploitasi, tetapi mengakui hak milik umum alat-alat untuk ber produksi, yang akan dipakai oleh kelompok-kelompok industri yang terikat antara satu dengan yang lain dalam kontrak yang bebas; selama hak ini tidak dipakai untuk mengeksploitasi manusia lain dan selama seorang individu dapat menikmati seluruh hasil kerjanya. Jumlah waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk memproduksi sebuah benda menjadi ukuran nilainya dalam pertukaran mutual. Dengan sistem tersebut, kemampuan kapital untuk menjalankan riba dimusnahkan. Jikalau kapital tersedia untuk setiap orang, kapital tersebut tidak lagi menjadi sebuah instrumen yang bisa dipakai untuk mengeksploitasi.

Internationale pertama

Lihat pula: Mikhail Bakunin
Tokoh utama kaum anarkisme adalah Mikhail Bakunin, seorang bangsawan Rusia yang kemudian sebagian besar hidupnya tinggal di Eropa Barat. Ia memimpin kelompok anarkis dalam konverensi besar kaum Sosialis sedunia (Internasionale I) dan terlibat pertengkaran dan perdebatan besar dengan Marx. Bakunin akhirnya dikeluarkan dari kelompok Marxis mainstream dan perjuangan kaum anarkis dianggap bukan sebagai perjuangan kaum sosialis. Sejak Bakunin, anarkisme identik dengan tindakan yang mengutamakan kekerasan dan pembunuhan sebagai basis perjuangan mereka. Pembunuhan kepala negara, pemboman atas gedung-gedung milik negara, dan perbuatan teroris lainnya dibenarkan oleh anarkhisme sebagai cara untuk menggerakkan massa untuk memberontak.[2]
Mikhail Bakunin merupakan seorang tokoh anarkis yang mempunyai energi revolusi yang dashyat. Bakunin merupakan ‘penganut’ ajaran Proudhon, tetapi mengembanginya ke bidang ekonomi ketika dia dan sayap kolektivisme dalam First International mengakui hak milik kolektif atas tanah dan alat-alat produksi dan ingin membatasi kekayaan pribadi kepada hasil kerja seseorang. Bakunin juga merupakan anti komunis yang pada saat itu mempunyai karakter yang sangat otoritar.
Pada salah satu pidatonya dalam kongres ‘Perhimpunan Perdamaian dan Kebebasan’ di Bern (1868), dia berkata:
Saya bukanlah seorang komunis karena komunisme mempersatukan masyarakat dalam negara dan terserap di dalamnya; karena komunisme akan mengakibatkan konsentrasi kekayaan dalam negara, sedangkan saya ingin memusnahkan negara --pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi yang sampai sekarang selalu memperbudak, mengeksploitasi dan menghancurkan mereka.
Bakunin dan anarkis-anarkis lain dalam First International percaya bahwa revolusi sudah berada di ambang pintu, dan mengerahkan semua tenaga mereka untuk menyatukan kekuatan revolusioner dan unsur-unsur libertarian di dalam dan di luar First International untuk menjaga agar revolusi tersebut tidak ditunggangi oleh elemen-elemen kediktatoran. Karena itu Bakunin menjadi pencipta gerakan anarkisme modern. Peter Kropotkin adalah seorang penyokong anarkisme yang memberikan dimensi ilmiah terhadap konsep sosiologi anarkisme.
Anarkisme model Bakunin, tidaklah identik dengan kekerasan. Tetapi anarkisme setelah Bakunin kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan yang menjadikan kekerasan sebagai jalur perjuangan mereka. Dan puncaknya adalah timbulnya gerakan baru yang juga menjadikan sosialisme Marx sebagai pandangan hidupnya, yaitu Sindikalisme. gerakan ini menjadikan sosialisme Marx dan anarkisme Bakunin sebagai dasar perjuangan mereka. Bahkan gerakan mereka disebut Anarko-Sindikalisme.

Surat untuk Fadil, ( cermin II )

Sekilas ingatanku, melayang mengingatmu kini, telah bertambah dewasa. Mungkin dengan serta-merta diiringi dengan pujian dan sanjungan. Berbeda denganku, yang hanya menjadi trouble maker bagi lingkunganku. Oleh karena itu, orang tua kita terkadang gerah melihat sepak terjangku. Padahal sepanjang tahun, aku selalu berharap dapat membuat mereka bangga kepadaku. Sekedar senyum tipis, tersaji di bibir mereka. Namun, aku yakin mereka selalu, mengharapkan hal terbaik untuk kita. Aku masih ingat, dimana dulu, ibu selalu sigap memarahiku, jika kau menangis karena kejahilanku. kenangan yang tidak akan terulang lagi, seiring dengan perjalanan waktu yang terus melaju ke-depan. Berbeda denganku, dan saudara kita yang lain. Kau memiliki semua berkah alam, yang secara turun temurun, mengisi jejak rekam silsilah keluarga. Kau memiliki perawakan menarik, intelijensi yang luar biasa, kemampuan berkomunikasi yang baik, dan semua hal yang mustahil akan dan pernah kudapat. Hanya saja, terkadang kau tidak mampu untuk menjaga perhatian dan kepercayaan dari orang tua kita. Maka, wajar saja jika dengan semua itu, ternyata bapak juga sering berang terhadapmu. Sangat berbeda denganku, yang telah berusaha meraih kepercayaan bapak, dengan kemampuan terbatas. Namun, tetap saja menjadi orang lain di rumahku sendiri, menjadi asing dengan semua kemampuanmu, agus dan ratna.

Mungkin kau akan menganggap surat ini, seperti justifikasi dariku. Atas semua yang telah kulakukan, namun apapun anggapanmu, bukan masalah besar bagiku. Arah yang kupilih, telah membuatku terbiasa akan ke-tidak percayaan orang terhadapku. Dan, dengan terpaksa harus kuakui, bahwa aku telah terbiasa, untuk tidak di percayai, atau di fitnah dengan kejam sekali-pun. Maka, aku sangat berharap kau tidak akan terkejut jikalau nanti, mendapat kabar, bahwa aku ber-value negatif di jajaran kaum jenggotan. Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, banyak orang yang akan menyampaikan kabar padamu kelak, bahwa aku adalah episentrum dari semua kekacauan. Hal yang sebenarnya, tidak pernah kulakukan. Tidak secara sengaja, ataupun tidak. Oleh karena itu pula, aku yakin pundakmu akan terbebani, karena didalam tubuh kita mengalir darah yang sama.

Kau harus tahu dan sadar betul, bahwa berdiri sebagai manusia merdeka, dan berusaha untuk menyajikan yang terbaik untuk orang banyak, bukanlah dosa apalagi beban. Jauh, sebelum kehadiran nama kita, mereka yang kau lihat di pinggir jalan sambil menengadahkan tangannya. Telah lebih dahulu menderita, bahkan mungkin air mata mereka telah mengering. Walaupun untuk sekedar, berdo'a dan mengadu kepada tuhan. Dan dari semua lapisan masyarakat kita, aku yakin merekalah yang paling percaya, bahwa tuhan tidak pernah tidur. Banyak pelajaran nyata yang dapat kau pelajari dari mereka, pelajaran yang tidak akan kau dapatkan di bangku sekolah formal, atau di dalam buku-buku teori yang mendongkrak nilai akademismu. Perjuangan sesungguhnya, di dalam memaknai rasa bersukur, dan ikhlas menjalani takdir. Bukan anek-dot prasangka, atas ketakutan akan terjungkir dari bangku kekayaan. Juga bukan permisalan, atas ke-inginan menguasai, dan hanyut ke-arus deras keinginan dan nafsu.

Mereka adalah guru, bagi manusia-manusia yang berfikir. Motivator bagi, semua pejuang-pejuang pembebasan. Bukan mahkluk hina, seperti yang pernah kau dengar dari pem-berita-an. Anggapan itu, hanya propaganda pemerintah, dan usaha lepas tangan dari penderitaan rakyat. Pemerintah kita, terlalu asyik menikmati anggaran, pada saat mereka ( yang kau kenal sebagai kaum duafa ) harus mengais sampah demi se-suap nasi. Untuk itu, aku sangat berharap kelak, kau akan belajar menjadi pemberani untuk menolong mereka. Pelajari dari mereka, semua hal yang dapat menjadikanmu manusia yang sesungguhnya, manusia yang sadar akan arti menjadi khalifah tuhan, di bumi ini. Dari mereka, kau juga dapat belajar, untuk memiliki pendirian yang teguh. Bahkan, menurutku mereka lebih baik, dari semua elemen yang ada di dalam masyarakat kita, lebih baik dari para pejabat, lebih baik dari gubernur apapun, dan bahkan lebih baik dari para presiden.

Di dalam sebuah pemerintahan, merekalah pemimpin yang sebenarnya, karena mereka adalah salah satu alasan, mengapa negara ini ada. Saudara mudaku, ada satu hal lagi yang perlu kau ingat, bahwa tuhan tidak pernah membedakan umatnya dari kekayaan dan kedudukan, melainkan amal ibadah. Dan mereka, adalah orang-orang yang akan membuat-mu paham bagaimana ber-tuhan yang sebenarnya. Dan, dari mereka juga, kau akan mengerti, bagaimana ber-amal ibadah yang sesungguhnya. Bukan ber-tuhan demi sebuah pengakuan, atau ber-ibadah demi kepentingan sementara.

Selepas kau membaca paragraf tadi, aku yakin kau pasti berfikir, bahwa aku sedang berusaha untuk meracuni pemikiranmu, dengan gaya sosialis. Atau, pikiranmu akan membawamu beranggapan, bahwa aku terlalu banyak minum anggur. Tapi, sekali lagi ku-tegaskan, bahwa keyakinan dan arahku telah membuatku mengambil kesimpulan itu, dan sangat berharap kau akan dapat lebih mudah mencerna semua tipuan logika pasar murahan. Surat ini kusajikan jauh, sebelum kau mengerti, apa itu keinginan untuk berkorban, memahami, dan bersedia untuk mencari jati dirimu. Sekedar pengingat, jika kau nanti kesulitan untuk menemukan jejak rekamku, atau ragu untuk menentukan pilihan. Di saat aku (mungkin), harus kau yasin-i, terbujur kaku, dan kau ikhlaskan untuk kembali kepangkuan-Nya.

Di-awal pagi,
Akhir bulan November 2009.


Peluk hangatku,
untuk-mu saudara mudaku.

Not my (your), privacy. ( Cermin )

Sepertiga bulan kuhabiskan guna mencari kepastian akan jawaban, atas serangkaian gundah hati. Setiap pagi menyonsong pergantian hari, detak jantungku terpacu dengan kencang. Seakan tidak pernah meminta malam usai, padahal sama seperti di setiap malam sebelumnya. Perasaan menciut dan takut, terkelola dengan sendirinya di benakku, seraya terus mengisi waktu, menunggu mata lelah dan tertidur penuh. Banyak hal, yang kemudian kupikirkan dari hari ke hari. Hal yang merangsang urat saraf dan emosi menegang tinggi pada saat bersamaan. Ingatan dari masa lampau yang penuh intrik, dilema, dan umpatan orang banyak. Semua mengucur dan me-lintas sekaligus, se-akan menyematkan diri sebagai ujian dan cobaan hidup.

Namun, sama seperti sebelumnya. Pertanyaan terbesarnya adalah, kenapa harus pada saat seperti ini, aku merasa berdekatan jiwa, dan butuh kepada-mu ?. Seolah kau, merupakan penawar atas semua perih yang ku-alami. Semua ini terjadi berulang kali. Walaupun setiap hal ini terjadi, aku akan kembali merasa bersalah atas keputusanku meninggalkan-mu. Dan, disaat semua rasa bersalah ter-akumulasi penuh mengisi sarafku, maka hanya me-maki hari, serta menertawai ke-bodoh-an yang bisa ku-laku-kan.

Betapa sadar-nya aku, pada saat ku biar-kan kau menangisi ke-pergian-ku. Mengucap-kan selamat tinggal, dan ber-paling menjauh dari ke-hidupan-mu. Dengan penuh ke-sadar-an juga, ku-saran-kan agar kau me-lupa-kan aku untuk selama-nya. Tanpa rasa ber-salah tersiar dari suara-ku, karena aku sangat yakin, bahwa nama-ku telah mengendap di tulang belakang-mu, mengalir ber-sama laju darah-mu, dan seperti udara yang kau hirup di setiap hela nafas-mu. Apakah aku terlalu sombong, untuk mengakui ikhlas-nya aku meninggalkanmu ?. Terlalu angkuh-kah aku, jika lebih mencintai kondisi yang ber-nama revolusi, dari pada men-cintai-mu ?. Sampai sekarang, aku belum men-dapat-kan jawaban-nya, dan biar-lah waktu yang men-jawab, karena waktu selalu me-milik-i jawab-an atas segala kontroversi yang pernah terjadi di bumi tuhan ini.

Apalagi, aku melakukannya dengan penuh keikhlasan dan ke-sadar-an. Karena selama aku masih melakukannya dengan ke-ikhlas-an dan kesadaran, menanggung konsekwensi terlempar ke-neraka tuhan-pun aku rela, apalagi harus meninggalkan-mu menagis di tepi sedih. Bukan hal yang sulit bagiku, hanya butuh sedikit keberanian mengucapkan “selamat tinggal”. Meski-pun tetap mengenangmu, di sela-sela ke-rapuhan-ku. Aku yakin bahwa aku telah me-laku-kan hal yang tepat. Membiarkan-mu menagis dan meratapi kepergianku untuk sesaat, dari pada harus menunggu penuh harap kepulanganku, yang terkadang menjadi hal paling tidak realistis bagi logika.

Yakinlah, bidadari mentari. Waktu masih, memiliki ruang untuk-mu, namun tidak untuk-ku. Itulah alasannya, kenapa aku tidak pernah menjawab setiap kau bertanya : “Kenapa selalu buku ?“. Karena aku tidak memiliki kepekaan, untuk menghadiahkan-mu setangkai mawar. Tapi, aku memiliki kepekaan, untuk meminjamkanmu buku-buku, Tan malaka. Dan, itu juga alasan-nya, kenapa aku lebih senang, melakukan intervensi terhadap kebijakan pemerintah. Dari pada, memelukmu, atau meninggalkan bekas bibirku, di bibirmu. Jadi, bukan karena aku sudah tidak lagi memiliki nafsu. Silahkan datangi lelaki lain, dan mencari apa yang tidak pernah kau dapat dariku, aku yakin ratusan kaum adam, menjadikanmu model di dalam fantasi mereka.

Bila masih ada sisa rasa untukku dihatimu, silahkan cemburu. Aku tidak akan pernah mengubris, karena mosi tidak percaya-mu yang bernama cemburu itu bukan karena aku selingkuh, cemburu-mu tertuju untuk orang banyak. Bukan kepada individu A, B, C, dst. Hanya itu yang dapat kusampaikan, semoga kau mengerti. Bahwa aku seorang lelaki, harus berdiri bersama orang banyak setiap hari, layaknya belati harus berguna, walaupun hanya untuk menawarkan mati. Bukan peti Barbie, yang bertuliskan “ My, Privacy ”.

Manusia dan Singa. ( Ladang Renungan )

Alkisah di sebuah masa di gurun pasir, pernah terjadi sepenggal kisah aneh. Balada ringan, warisan generasi era akhir zaman mahkluk Tuhan. Ditengah gersang, tandus, dan panasnya gurun pasir itu, ternyata masih ada se-cecer oase ditepi empat gundukan bukit pasir. Dari arah selatan, terlihat sesosok manusia datang ke-oase tersebut. Disaat yang bersamaan, terlihat se-ekor singa, yang juga sedang mendekati oase tersebut, dari arah utara. Entah dari mana datang, dan awal mula perjalanan ke-dua mahkluk Tuhan tersebut.

Setelah lama saling mengintai, dan memperhatikan dari kejauhan. Akhirnya ke-duanya beradu tatap selama beberapa saat di pinggir, se-cecer oase tadi. Dan duduk saling berhadap-hadapan, di bawah sebatang pohon kurma kecil. Sampai akhirnya, si manusia berkata:

Manusia : “ Wahai sesama hamba Tuhan, mari kita berbagi air ini “, dengan wajah memelas.

Singa : “ Apakah pantas aku berbagi dengan manusia sepertimu ?, sedangkan banyak dari kaum-ku yang dikuliti, dan diburu oleh bangsa-mu, hanya demi kesenangan dan hiburan semata “, jawab sang singa.

Manusia : “ Kau Raja rimba, sudah sepatutnya berlaku adil kepada siapa saja “, seru si manusia.

Manusia : “ Aku tidak takut jika harus bermusuhan dengan-mu, karena kaummu-pun juga sering memangsa bangsa-ku. Jadi kita sebenarnya sama, oleh karena itu mari kita berbagi air ini “, sambung manusia.

Singa : “ Aku memang Raja rimba, tapi itu dulu sebelum bangsamu menebang hijau-nya. Dengan dalil pembangunan dan kesejahteraan, membumi hanguskan segala isi rimba. Dan yang perlu kau tahu, wahai cucu adam. Kaum-ku memangsa bangsamu, murni untuk melindungi diri, dan teritori yang sudah kami tempati dari masa nenek moyang kami. Jadi, tolong jangan kau samakan antara kaum-ku dan bangsa-mu itu “, hardik sang singa.

Singa : “ Kau melakukan kesalahan besar, jika menyamakan aku dengan bangsa-mu yang anti-thesis didalam bersikap, dengan apa yang telah kalian ucapkan. Apalagi aku dan kaum-ku bukan singa sirkus yang a-historis, apalagi Amnesia seperti bangsa-mu “, sambung sang singa.

Manusia : “ Benarkah itu, wahai singa ? “, kata manusia dengan nada bertanya.

Manusia : “ Jika begitu, ceritakan-lah kepadaku, kisah sebelum nama-ku terlahir. Dimana kau dan kaum-mu, masih memiliki kebesaran dan keagungan seperti dongeng yang pernah ku-dengar “, kata manusia.

Sang Singa bercerita panjang lebar, dengan semangat menggebu-gebu dan heroisme tingkat tinggi. Sampai akhirnya dia sadar, bahwa sebenarnya manusia sedang mengelabui-nya. Dan telah meminum, setengah ceceran air di-oase tersebut. Melihat hal tersebut, Singa tertawa lepas, dan berkata :

Singa : “ Dasar manusia kau picik sangat, hal ini akan menjadi ingatan tambahan bagi-ku, betapa manusia amat-sangat tidak dapat dipercaya, dank au benar-benar dar bangsa-mu “, kata sang Singa.

Singa : “ Tapi sudahlah, apakah kau masih menyisakan air untuk-ku ? “, tanya sang Singa.

Manusia : “ aku bukan manusia yang tega melakukan itu, walaupun dalam keadaan terpaksa bangsa-ku kerap meng-halalkan segala cara. Lihatlah masih kusisakan setengah cecer air di oase itu, untukmu wahai Raja tanpa mahkota “, sahut manusia seraya menunjuk kearah oase.

Kembali tawa lepas dan menggema keluar dari mulut sang Singa, keadaan kemudian semakin men-cair diantara kedua-nya. Seakan mereka telah lama bersahabat. Sang Singa meminta kepada Manusia menceritakan arah, tujuan, dan maksud dari perjalanannya. Manusia menceritakan bahwa arah, perjalanannya menuju kota Damai, yang berjarak berjuta batu dari tempat asalnya, dengan tujuan mencari petunjuk dari Bintang Utara. Dan bermaksud untuk melakukan perubahan fundamental, ditengah bobroknya moral bangsa-nya.

Mendengar cerita Manusia, sang Singa merasa terharu dan menawarkan sisa cecer-an air dioase kepada Manusia. Bukan hanya itu, dia juga menawarkan dirinya sebagai bekal kepada Manusia.

Singa : “ Biarkan tetesan darahku mengisi kantung airmu, dan bawalah hati, dan dagingku sebagai bekal makanan-mu. Kenakan kulitku, sebagai lambang ke-jayaan dan ke-megahan-mu. Sesungguhnya kau memang layak menerima-nya “, kata sang Singa menawarkan.

Singa : “ Dengan syarat, jika ada yang bertanya apakah aku Mahkluk pe-murka dan pembangkang. Maka jawablah IYA, dia adalah mahkluk yang pemurka kepada Tirani, dan dia juga pembangkang bagi para diktator. Juga jawablah IYA jika ada yang bertanya, apakah dia memiliki harapan dan cita-cita di mimpi-nya. Maka katakanlah bahwa aku berharap, akan ada sebuah era dimana setiap tingkatan kasta dan tindakan apartheid, hanyalah dongeng yang di gunakan untuk menakut-nakuti kenakalan anak-anak. Bukan sebuah realita yang harus diterima dan terjadi dibumi ini. Serta, jangan lupa sampaikan cita-cita impianku. Dimana wajar terlihat semua makhluk dapat hidup berdampingan dan saling tolong-menolong, dan ingat-mengingatkan menuju jalan yang benar. Kondisi dimana bahasa kita hanya satu, bahasa kebenaran.”, titah sang Singa.

Singa : “ Bagaimana manusia ?, apakah kau sanggup menyampaikan amanahku ?, sungguh begitulah seharusnya “.

Setelah menyanggupi amanah sang Singa, dan melakukan “pembantaian” yang mengantar Singa sebagai martir. Manusia-pun melanjutkan perjalanannya, menuju kota Damai. Berbalut kulit, berbekal amanah dan secawan darah Singa, serta mengantongi hati dan daging Singa sebagai bekal. Di perjalanannya, manusia menyampaikan amanah Singa kepada mereka-mereka yang bertanya. Tapi menambahkan sedikit pujian yang berbunyi:

“ Sungguh betapa sangat manusiawi sang Singa “



Di dedikasikan untuk
semua kawan-kawan yang telah memilih
Arief Fadly sebagai Presma USK 2010-2011

Masih Sama

Tadi aku mencium harum aroma yang sama, seperti wangimu. Tidak pelak aku-pun langsung terbawa ke lorong waktu, menyusuri keadaan dan kondisi brutal. Bait terbaik yang pernah, kurasakan di dalam kehidupan ini. Seperti biasa, aku hanya akan terdiam di tempatku, butuh waktu setengah jam sampai akhirnya aku sadar, bahwa dia bukan kau. Kondisi seperti itu sangat rumit, dan kompleks bagiku, rasanya lebih mudah melakukan aksi demonstrasi ke-KODAM, atau turun ke-jalan melakukan aksi anarkis selama seminggu.

Dari pada harus kembali, menyusuri lorong waktu seperti tadi. Tidak peduli sekuat apapun aku berusaha melawan, hasilnya akan tetap sama saja. Entah apa lagi yang dapat kulakukan, sampai malam berganti pagi, aku masih terjaga. Teringat kejadian tadi, sungguh selama setengah jam itu, aku merasa kau hadir kembali disisiku. Melingkarkan tanganmu di pinggangku, dan dengan lembut berkata “ Aku takut jika nanti, aku atau kau pergi, dan kita harus berpisah “. Entah mengapa, ketakutanmu sepertinya terjawab. Dan berbeda seperti malam itu, sekarang akulah yang merasa ketakutan ter-amat sangat.

Tidak biasanya aku ketakutan seperti tadi, lebih menakutkan dari-pada mengingat kembali wajah-wajah lugu yang harus menengadahkan tangannya di pinggir jalan kota, hanya untuk sesuap nasi. Atau ketakutanku mengingat bagaimana Negara ini, di pimpin oleh sekumpulan manusia yang mahir dalam korupsi, serta tega men-jadi agen, menjual tanah darahnya sendiri. Bahkan ketakutan tadi, lebih menakutkan dari pada ketakutan generasi muda negeri ini, atas hak pendidikan mereka yang dikebiri. Padahal sudah seharusnya, dijamin oleh Negara untuk mereka.

Sudah ratusan kali aku mencoba untuk menutup mataku malam ini, tapi tetap saja indra penciumanku sepertinya masih mencium aroma harum tadi. Aku belum cukup gila untuk ini, walau sudah dapat dikategorikan wajar berbicara dengan batu. Bagaimana tidak, sebagai warga Negara tanah ini, aku dan warga negara lainnya, sudah sepantasnya berbicara dengan batu. Karena perangkat dan aparatur Negara ini, sudah mem-batu hatinya. Bahkan sebahagian, telah membatu cukup lama. Mungkin saja sekarang, mereka sudah dapat di-nama-kan sebagai arca.

Apa yang sebenarnya terjadi ?, mungkinkah kau coba meng-isyarat-kan kerinduanmu kepada-ku ?, atau sebaliknya aku-lah yang terlalu lama memendam keindahanmu dihatiku ?. Entahlah, mungkin juga semua ini, hanya perasaanku yang tidak ber-atur-an. Terjadi karena ego-ku, yang terlalu tinggi untuk tetap berpikir rasional. Tanpa, mengindahkan konsep-konsep mistis sedikitpun. Walau begitu, jika aku boleh jujur, aku masih dan akan selalu rindu kepadamu. Aku berjanji, kelak aku akan menemui-mu di alam sana, walaupun hanya sesaat. Hanya sekedar terpesona dengan senyum dan tingkah-mu, saat bermain dengan riang di sorga tuhan bertemankan para bidadari.

Untuk sementara biarlah aku menemani mereka yang dimarginalkan oleh situasi dan kondisi, mereka yang masih cukup waras untuk melawan ketika ditindas. Sama seperti dulu, kau masih dapat memegang janji-ku, cepat atau lambat aku pasti akan menemui-mu, minimal melihat-mu disana. Walau-pun aku ragu apakah kau akan menyambutku seperti dulu, saat kau masih disini menemaniku melawan sepi.

“Ingatan, atau Logika”

Kita melewati hari-hari dengan kesederhanaan dan bersahaja, menipu pemikiran orang dengan penampilan gembel. Terus berpacu mengisi otak dengan ilmu, dan tidak mengindahkan lagi mahalnya harga buku yang harus kita beli. Setiap dari kita telah merasa nyaman bertemankan imajinasi, dan kilasan film hasil bacaan, sebisa dan semampu mungkin meng-aplikasikan apa yang telah kita baca.

Diwaktu yang sama, banyak orang yang menertawakan tindakan kita. Mencerca kemampuan dan memandang enteng dengan apa yang telah kita lakukan, dan pada saat yang sama juga, kita menertawakan mereka. Membiarkan mereka tenggelam diantara tumpukan kesalahan analisa dan anggapan mereka, terus dan terus membiarkan mereka tenggelam diantara kebodohan dan ke-naif-an mereka menilai sesuatu.

Baru kemarin rasanya, ketika kita sama-sama membantah segala anggapan sinis yang mereka lontarkan kepada kita. Sampai kita sadar, bahwa dengan melakukan bantahan tersebut, sama juga artinya dengan tenggelam ditengah kebodohan mereka. Kita-pun akhirnya menyingkir, mencari ranah baru, yang dapat di jadikan landasan pasti, menuju pencerdasan. Butuh waktu yang sangat lama, sebelum akhirnya orang-orang muda mengganti-kan kita. Dan kita menjadi saudara tua bagi diri kita sendiri, dan orang-orang muda ini. Sampai akhirnya persimpangan itu terlihat jelas, memilah kita menjadi berbagai kelompok kecil. Dan jelaslah janji konsisten hanya bagian dari mimpi, disebabkan kebutuhan masa depan kita yang berbeda jalan.
Namun masing-masing dari kita tetap melewati berbagai cobaan dengan senyum, canda dan langkah enteng. Tidak peduli seberapa beratnya cobaan yang kita alami, atau seberapa dalam kita terluka. Setiap tindakan merupakan aplikasi dari pengetahuan yang telah mengendap di otak kita. Bahkan kita masih bisa tertawa dan bekerja-sama, meng-aplikasikan mimpi kolektif, setelah terluka bersama. Bahkan sampai sekarang, aku berani berjanji, jangan-kan wanita dan harta, nyawa ini-pun, akan ku-pertaruhkan untuk-mu. Tetaplah seperti dulu kawan, dimana kita masih berkata :

“ Mari menertawakan takdir kawan, seperti kemarin kita menertawai aparat, dan moncong senjata yang mereka arahkan kepada kita. Mari menertawakan takdir kawan, karena manusia seperti aku dan kau tidak dapat dipuaskan dengan berbagai tipuan logika pasar atau impian kaum kapitalis. Sedangkan kita, terus dicaci oleh keadaan diantara berbagai keterpurukan. Bermodal kepalan tangan kiri yang terus akan kita angkat ke-atas, sebagai isyarat bahwa kita telah berhasil menjadi tuan bagi kehidupan kita sendiri. Persetan dengan tipuan-tipuan analisa pakar “Bayaran” ekonomi global, persetan dengan variasi konsepsional, atau hentakan waktu yang terus berlalu”.

Di lain hari kita akan duduk di-tanah datar menikmati segelas anggur, berteman malam dan bintang, sambil tetap terus menertawakan resiko mati. Sungguh tidak akan pernah kenikmatan serupa dapat terasa, tidak nanti atau besok. Maka simpanlah baik-baik kenangan yang pernah kita lewati bersama, bukan karena jutaan langkah aksi, atau ratusan solusi hasil diskusi. Namun karena, semangat, rasa haus akan ilmu, keberanian melawan, pengorbanan membela kebenaran dan kepekaan terhadap penindasan yang tersisip didalamnya. Catatan ini kupersembahkan untuk-mu kawan, mari sekali lagi menertawakan takdir dihari baru-nya, sambil membasahi kerongkongan kita dengan anggur yang lebih keras dan dengan jumlah yang lebih banyak.

ACEH & AMNESIA

Sebagai sebuah bangsa, Aceh terdiri dari tatanan peradaban yang heterogen. Hal ini tercermin dari banyaknya ragam bahasa dan adat istiadat di Aceh. Perbedaan ini merupakan sebuah karunia bagi rakyat Aceh, menjadi penguat simpul persaudaraan di perantauan. Kemampuan berbudaya dan hidup berdampingan di tengah keberagaman, merupakan karakter masyarakat Urban. Sebuah bukti tegas dari masa lampau, bahwa bangsa Aceh pernah menjadi bangsa yang kosmopolit. Sangat bertolak belakang memang, dengan realita yang terjadi di Aceh sekarang. Dimana nilai-nilai luhur, tidak lagi dipahami sebagai kehormatan, melainan sikap kolot dan kampungan.

Ke-Islam-an rakyat Aceh yang telah meresap ke dalam sendi-sendi adat budaya, dan menjadi penalaran paling sesuai dengan watak dan karakteristik rakyat Aceh. Walaupun terkesan fanatik ke-Islam-an rakyat Aceh dulunya, teraplikasikan secara menyeluruh, bagaikan darah yang mengalir didalam tubuh orang Aceh itu sendiri. Murni berlaku sebagai hukum tuhan, bukan seperangkat aturan tertulis yang berdiri dibawah hukum manusia, yang dijalankan secara tebang pilih. Dan bukan pula menjadi instrumen politik, demi memuaskan syahwat berkuasa. Bahkan pada masa kolonial Belanda, ke-islam-an rakyat Aceh telah menumbuhkan spirit perlawanan terhadap penjajah. Keberadaan Hikayat Prang Sabil merupakan bukti nyata bahwa pada masa lampau, Islam merupakan landasan semangat perlawanan bagi rakyat Aceh. Hal ini juga yang ditangkap oleh snouck, dan kemudian dijadikan basis pemikiran guna menyusun strategi, mematahkan perlawanan pejuang Aceh pada masa itu.

Dan, ke-Islam-an ini juga yang membuat orang Aceh, dikenal dengan keberaniannya. Sikap pantang menyerah, merupakan nilai tawar tersendiri. Hal ini merupakan perwujudan dari kebersahajaan elegan, yang berpadu dengan kerja keras. Menghasilkan kemakmuran, serta tempat bagi Aceh di dalam pergaulan dunia. Selain itu Aceh juga memiliki potensi alam yang besar, sehingga dengan strategi pemasaran yang tepat, dapat membentuk sistem per-ekonomian tersendiri, dan menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah terbesar. Jadi jelas sudah, bahwa bangsa Aceh bukan sekumpulan penakut dari bukit lawang, atau bangsa KuPer ( Kurang Pergaulan ) yang ter-eliminasi, dari kancah pergaulan internasional. Bukan pula bangsa bar-bar, yang tidak memiliki kapasitas, guna mengelola hasil alamnya sendiri.

Semua ini seharusnya menjadi pondasi bagi rakyat Aceh, guna menapaki hari depan yang lebih baik. Namun sekarang semua itu tinggal kenangan, pupus terseka oleh darah para korban konflik, hanyut tersapu oleh Tsunami, dan seakan terus lenyap dari nafas kita segala warisan luhur endatu. Adalah hal wajar jika tantangan perkembangan ditengah pesat dan ketatnya kemajuan teknologi, membentuk kemampuan berpikir yang serba cepat, perhitungan efisiensi sebagai standar, dijadikan tolak ukur utama.

Di era ini bangsa Aceh sedang, menapaki masa damai setelah konflik berkepanjangan, namun semakin kerap juga kita jumpai perlakuan abnormal terjadi. Baik yang dilakukan oleh pejabat negara, maupun dari kalangan rakyat biasa. Dan yang sangat menyedihkan lagi, hal tersebut semakin seperti menjadi hal wajar untuk dilakukan, terutama guna menjawab tantangan persaingan. Hal ini membentuk karakteristik individualis ditengah masyarakat. Dengan demikian terkuburlah sudah budaya kebersamaan, yang dari dulu sudah tertanam sebagai kunci keberhasilan bangsa Aceh. Begitulah segala sesuatu di lupakan oleh bangsa Aceh ( yang sudah terlanjur Amnesia ) di era kini, baik itu adat-budaya, maupun karakter yang tanpa di sadari telah menjadi ciri khas dan identitas tersendiri.

Bagi sebagian dari kita, Amnesia mungkin lebih dikenal sebagai penyakit lupa yang dialami oleh para lansia. Namun yang terjadi sekarang, Amnesia ternyata justru merebak dengan ganas ditengah peradaban kita. Amnesia merupakan sebuah penyakit paling berbahaya bagi semua peradaban dunia. Penyakit yang dapat melumpuhkan sikap kritis, bahkan membunuh identitas asli peradaban tersebut. Sebuah racun bagi sejarah, dan budaya. Sebuah kemunduran telak, ditengah dinamisnya roda waktu yang terus menuntut perkembangan. Bila hal ini terus dibiarkan, maka jangan heran jika di hari depan, peradaban bangsa Aceh hanya dongeng bagi anak cucu kita. Mungkin coba membangkitkan budaya lama endatu, terkesan statis dan primordial. Namun hal tersebut merupakan capital sosial bagi semua rakyat Aceh, maka tanpa perlu merasa malu sudah saatnya menjadikan hal tersebut sebagai pondasi menapaki hari depan.

Kebanggaan untuk menulang kembali kejayaan Aceh, dengan menjaga adat-budaya. Bukan berarti membangkitkan sifat kedaerahan, namun lebih kepada memilih instrumen pembaharuan yang tepat dan sesuai dengan kearifan lokal. Sehingga, potensi yang tertanam di dalam keindahan adat-budaya bangsa ini, dapat tereksplorasi dengan benar. Bukan hanya menjadi persembahan primordial, di dalam pembukaan setiap acara. Karena hal tersebut merupakan tanda, bahwa kemampuan berbudaya rakyat Aceh telah mengalami deglarasi.

Demi keselamatan dan kejayaan peradaban ini, cukup sudah masa damai berlalu dengan cara mengikhlaskan darah ribuan korban konflik. Cukup juga kemonotonan pendidikan, terjadi karena sifat lupa yang tinggi. Dengan begitu semoga harapan masa depan, dapat bersatu dengan kemegahan masa lalu. Agar tidak ada lagi bangsa terkhianat dibarisan Negara pengkhianat, karena memang bukan masanya lagi membahas tentang siapa. Saatnya mengikis dendam masa lalu, dan bertanya apa dan bagaimana melakukannya. Bukan hanya itu, dengan menjaga budaya endatu. Juga merupakan langkah nyata menghilangkan tempat bagi manusia-manusia bodoh, yang bangga dengan kebodohannya.

Menjadi pesan bagi generasi muda, agar tetap berpikir kritis, tanpa harus mengabdi kepada bendera tertentu. Dan, tentunya akan menjadi hantaman telak, bagi kritikus kurang referensi. Yang mencemooh keberanian dan kerja ikhlas generasi muda saat ini, agar dapat menghargai setiap tindakan generasi muda, sebagai sebuah ingatan tersendiri tentang apa yang pernah terjadi. Bukan malah menyebar agitasi, dengan mengatakan ” Perut saya mulas, mendengar kata revolusi”. Saatnya untuk berpikir secara egalitarian, mengindahkan setiap persamaan. Karena di dalam adat-budaya bangsa Aceh, semua itu tertera dengan jelas.