Sebagai sebuah bangsa, Aceh terdiri dari tatanan peradaban yang heterogen. Hal ini tercermin dari banyaknya ragam bahasa dan adat istiadat di Aceh. Perbedaan ini merupakan sebuah karunia bagi rakyat Aceh, menjadi penguat simpul persaudaraan di perantauan. Kemampuan berbudaya dan hidup berdampingan di tengah keberagaman, merupakan karakter masyarakat Urban. Sebuah bukti tegas dari masa lampau, bahwa bangsa Aceh pernah menjadi bangsa yang kosmopolit. Sangat bertolak belakang memang, dengan realita yang terjadi di Aceh sekarang. Dimana nilai-nilai luhur, tidak lagi dipahami sebagai kehormatan, melainan sikap kolot dan kampungan.
Ke-Islam-an rakyat Aceh yang telah meresap ke dalam sendi-sendi adat budaya, dan menjadi penalaran paling sesuai dengan watak dan karakteristik rakyat Aceh. Walaupun terkesan fanatik ke-Islam-an rakyat Aceh dulunya, teraplikasikan secara menyeluruh, bagaikan darah yang mengalir didalam tubuh orang Aceh itu sendiri. Murni berlaku sebagai hukum tuhan, bukan seperangkat aturan tertulis yang berdiri dibawah hukum manusia, yang dijalankan secara tebang pilih. Dan bukan pula menjadi instrumen politik, demi memuaskan syahwat berkuasa. Bahkan pada masa kolonial Belanda, ke-islam-an rakyat Aceh telah menumbuhkan spirit perlawanan terhadap penjajah. Keberadaan Hikayat Prang Sabil merupakan bukti nyata bahwa pada masa lampau, Islam merupakan landasan semangat perlawanan bagi rakyat Aceh. Hal ini juga yang ditangkap oleh snouck, dan kemudian dijadikan basis pemikiran guna menyusun strategi, mematahkan perlawanan pejuang Aceh pada masa itu.
Dan, ke-Islam-an ini juga yang membuat orang Aceh, dikenal dengan keberaniannya. Sikap pantang menyerah, merupakan nilai tawar tersendiri. Hal ini merupakan perwujudan dari kebersahajaan elegan, yang berpadu dengan kerja keras. Menghasilkan kemakmuran, serta tempat bagi Aceh di dalam pergaulan dunia. Selain itu Aceh juga memiliki potensi alam yang besar, sehingga dengan strategi pemasaran yang tepat, dapat membentuk sistem per-ekonomian tersendiri, dan menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah terbesar. Jadi jelas sudah, bahwa bangsa Aceh bukan sekumpulan penakut dari bukit lawang, atau bangsa KuPer ( Kurang Pergaulan ) yang ter-eliminasi, dari kancah pergaulan internasional. Bukan pula bangsa bar-bar, yang tidak memiliki kapasitas, guna mengelola hasil alamnya sendiri.
Semua ini seharusnya menjadi pondasi bagi rakyat Aceh, guna menapaki hari depan yang lebih baik. Namun sekarang semua itu tinggal kenangan, pupus terseka oleh darah para korban konflik, hanyut tersapu oleh Tsunami, dan seakan terus lenyap dari nafas kita segala warisan luhur endatu. Adalah hal wajar jika tantangan perkembangan ditengah pesat dan ketatnya kemajuan teknologi, membentuk kemampuan berpikir yang serba cepat, perhitungan efisiensi sebagai standar, dijadikan tolak ukur utama.
Di era ini bangsa Aceh sedang, menapaki masa damai setelah konflik berkepanjangan, namun semakin kerap juga kita jumpai perlakuan abnormal terjadi. Baik yang dilakukan oleh pejabat negara, maupun dari kalangan rakyat biasa. Dan yang sangat menyedihkan lagi, hal tersebut semakin seperti menjadi hal wajar untuk dilakukan, terutama guna menjawab tantangan persaingan. Hal ini membentuk karakteristik individualis ditengah masyarakat. Dengan demikian terkuburlah sudah budaya kebersamaan, yang dari dulu sudah tertanam sebagai kunci keberhasilan bangsa Aceh. Begitulah segala sesuatu di lupakan oleh bangsa Aceh ( yang sudah terlanjur Amnesia ) di era kini, baik itu adat-budaya, maupun karakter yang tanpa di sadari telah menjadi ciri khas dan identitas tersendiri.
Bagi sebagian dari kita, Amnesia mungkin lebih dikenal sebagai penyakit lupa yang dialami oleh para lansia. Namun yang terjadi sekarang, Amnesia ternyata justru merebak dengan ganas ditengah peradaban kita. Amnesia merupakan sebuah penyakit paling berbahaya bagi semua peradaban dunia. Penyakit yang dapat melumpuhkan sikap kritis, bahkan membunuh identitas asli peradaban tersebut. Sebuah racun bagi sejarah, dan budaya. Sebuah kemunduran telak, ditengah dinamisnya roda waktu yang terus menuntut perkembangan. Bila hal ini terus dibiarkan, maka jangan heran jika di hari depan, peradaban bangsa Aceh hanya dongeng bagi anak cucu kita. Mungkin coba membangkitkan budaya lama endatu, terkesan statis dan primordial. Namun hal tersebut merupakan capital sosial bagi semua rakyat Aceh, maka tanpa perlu merasa malu sudah saatnya menjadikan hal tersebut sebagai pondasi menapaki hari depan.
Kebanggaan untuk menulang kembali kejayaan Aceh, dengan menjaga adat-budaya. Bukan berarti membangkitkan sifat kedaerahan, namun lebih kepada memilih instrumen pembaharuan yang tepat dan sesuai dengan kearifan lokal. Sehingga, potensi yang tertanam di dalam keindahan adat-budaya bangsa ini, dapat tereksplorasi dengan benar. Bukan hanya menjadi persembahan primordial, di dalam pembukaan setiap acara. Karena hal tersebut merupakan tanda, bahwa kemampuan berbudaya rakyat Aceh telah mengalami deglarasi.
Demi keselamatan dan kejayaan peradaban ini, cukup sudah masa damai berlalu dengan cara mengikhlaskan darah ribuan korban konflik. Cukup juga kemonotonan pendidikan, terjadi karena sifat lupa yang tinggi. Dengan begitu semoga harapan masa depan, dapat bersatu dengan kemegahan masa lalu. Agar tidak ada lagi bangsa terkhianat dibarisan Negara pengkhianat, karena memang bukan masanya lagi membahas tentang siapa. Saatnya mengikis dendam masa lalu, dan bertanya apa dan bagaimana melakukannya. Bukan hanya itu, dengan menjaga budaya endatu. Juga merupakan langkah nyata menghilangkan tempat bagi manusia-manusia bodoh, yang bangga dengan kebodohannya.
Menjadi pesan bagi generasi muda, agar tetap berpikir kritis, tanpa harus mengabdi kepada bendera tertentu. Dan, tentunya akan menjadi hantaman telak, bagi kritikus kurang referensi. Yang mencemooh keberanian dan kerja ikhlas generasi muda saat ini, agar dapat menghargai setiap tindakan generasi muda, sebagai sebuah ingatan tersendiri tentang apa yang pernah terjadi. Bukan malah menyebar agitasi, dengan mengatakan ” Perut saya mulas, mendengar kata revolusi”. Saatnya untuk berpikir secara egalitarian, mengindahkan setiap persamaan. Karena di dalam adat-budaya bangsa Aceh, semua itu tertera dengan jelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar