Sabtu, 16 Oktober 2010

“Ingatan, atau Logika”

Kita melewati hari-hari dengan kesederhanaan dan bersahaja, menipu pemikiran orang dengan penampilan gembel. Terus berpacu mengisi otak dengan ilmu, dan tidak mengindahkan lagi mahalnya harga buku yang harus kita beli. Setiap dari kita telah merasa nyaman bertemankan imajinasi, dan kilasan film hasil bacaan, sebisa dan semampu mungkin meng-aplikasikan apa yang telah kita baca.

Diwaktu yang sama, banyak orang yang menertawakan tindakan kita. Mencerca kemampuan dan memandang enteng dengan apa yang telah kita lakukan, dan pada saat yang sama juga, kita menertawakan mereka. Membiarkan mereka tenggelam diantara tumpukan kesalahan analisa dan anggapan mereka, terus dan terus membiarkan mereka tenggelam diantara kebodohan dan ke-naif-an mereka menilai sesuatu.

Baru kemarin rasanya, ketika kita sama-sama membantah segala anggapan sinis yang mereka lontarkan kepada kita. Sampai kita sadar, bahwa dengan melakukan bantahan tersebut, sama juga artinya dengan tenggelam ditengah kebodohan mereka. Kita-pun akhirnya menyingkir, mencari ranah baru, yang dapat di jadikan landasan pasti, menuju pencerdasan. Butuh waktu yang sangat lama, sebelum akhirnya orang-orang muda mengganti-kan kita. Dan kita menjadi saudara tua bagi diri kita sendiri, dan orang-orang muda ini. Sampai akhirnya persimpangan itu terlihat jelas, memilah kita menjadi berbagai kelompok kecil. Dan jelaslah janji konsisten hanya bagian dari mimpi, disebabkan kebutuhan masa depan kita yang berbeda jalan.
Namun masing-masing dari kita tetap melewati berbagai cobaan dengan senyum, canda dan langkah enteng. Tidak peduli seberapa beratnya cobaan yang kita alami, atau seberapa dalam kita terluka. Setiap tindakan merupakan aplikasi dari pengetahuan yang telah mengendap di otak kita. Bahkan kita masih bisa tertawa dan bekerja-sama, meng-aplikasikan mimpi kolektif, setelah terluka bersama. Bahkan sampai sekarang, aku berani berjanji, jangan-kan wanita dan harta, nyawa ini-pun, akan ku-pertaruhkan untuk-mu. Tetaplah seperti dulu kawan, dimana kita masih berkata :

“ Mari menertawakan takdir kawan, seperti kemarin kita menertawai aparat, dan moncong senjata yang mereka arahkan kepada kita. Mari menertawakan takdir kawan, karena manusia seperti aku dan kau tidak dapat dipuaskan dengan berbagai tipuan logika pasar atau impian kaum kapitalis. Sedangkan kita, terus dicaci oleh keadaan diantara berbagai keterpurukan. Bermodal kepalan tangan kiri yang terus akan kita angkat ke-atas, sebagai isyarat bahwa kita telah berhasil menjadi tuan bagi kehidupan kita sendiri. Persetan dengan tipuan-tipuan analisa pakar “Bayaran” ekonomi global, persetan dengan variasi konsepsional, atau hentakan waktu yang terus berlalu”.

Di lain hari kita akan duduk di-tanah datar menikmati segelas anggur, berteman malam dan bintang, sambil tetap terus menertawakan resiko mati. Sungguh tidak akan pernah kenikmatan serupa dapat terasa, tidak nanti atau besok. Maka simpanlah baik-baik kenangan yang pernah kita lewati bersama, bukan karena jutaan langkah aksi, atau ratusan solusi hasil diskusi. Namun karena, semangat, rasa haus akan ilmu, keberanian melawan, pengorbanan membela kebenaran dan kepekaan terhadap penindasan yang tersisip didalamnya. Catatan ini kupersembahkan untuk-mu kawan, mari sekali lagi menertawakan takdir dihari baru-nya, sambil membasahi kerongkongan kita dengan anggur yang lebih keras dan dengan jumlah yang lebih banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar